Jumat, 28 November 2014

                                                    

 

                               Budaya Asli FLORES 

 

                                    1. Tarian CACI

      Caci adalah jenis tarian perang yang berasal dari kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Caci berarti mencoba setiap orang satu demi satu untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. tarian caci, hanya dibawakan oleh  dua orang laki-laki dan pada  saat tarian ditampilkan keduanya menggunakan alatnya masing-masing yaitu, cambuk dan perisai.

 

        Tarian caci diiringi dengan gong-gendang dan nyanyian daerah Manggarai yang dinyanyikan oleh beberapa perempuan dan laki-laki sambil membentuk lingkaran. Hal tersebut dilakkukan, untuk menambah kemeriahan, memberi semangat pada penari caci agar lebih semangat dalam menampilkan tarian dan menjelaskan arti-arti penting dari tarian caci yang dibawakan. 

    Tarian caci biasanya, ditampilkan pada perayaan hari kemerdekaan, dan penyambutan tamu-tamu penting.

  

           

 Pakaian adat Manggarai

Warna  merah muda adalah pilihan terbaik sebagai warna  baju perempuan dan kemeja lengan panjang untuk laki-laki. blus dan kemeja benar-benar cocok untuk digunakan bersama sarung  atau Songke dalam berbagai motif-motif gelap bersatu dengan horizotal, patch kecil vertikal atau diagonal putih, hijau, merah atau kuning mengungkapkan kesatuan wilayah. Dalam rincian wanita memakai mbero dan Songke sementara pria mengenakan kemeja lengan panjang putih dan Songke sementara seorang pria memakai seragam putih lengan panjang  dan Songke perempuan dan laki-laki memakai syal menggantung di seberang bahu kiri ke kanan pinggang untuk menghias kepala mereka ada sepotong kuning Croth dengan baik motif disebut bali belo sebagai ikat kepala. 

  

                                    2.Tarian Ja'i 

       Ja’i merupakan  tarian tradisional dari Bajawa, Kabupatan     Ngada,yang artinya menari. Ja’i ditarikan oleh laki-laki dan perempuan dalam tarian ja’i tidak dibatasi umur untuk mengikutinya mulai dari anak-anak sampai dewasa bebas untuk mengikutinya.
         Ja’i biasanya dipentaskan pada saat KA SA’O, KA NUA, RAJU NGADHU, pesta kebun dengan hasil yang berlimpah sebagai syukuran atau DOKO UMA, penyambutan tamu, dan sebagai tarian hiburan dalam pesta-pesta.
      Ja’i mempunyai tujuan untuk ungkapan kegembiran ( Ka Sa’o Mere, Doko uma), menyatakan ketenaraan pribadi ( Ture Nua) atau ketenaraan bersama, hiburan atas suatu pekerjaan ( Behy Ngadhu, Behy Leke), dan ajang cari jodoh.           
          Ja’i diiringi dengan music tabuh tradisional yaitu Gong-gendang atau Laba-Go, nyanyian atau hentakan kaki ( Tarian reba, Dero, Teke.), atau music modern. Dalam tarian Ja’i tidak mempunyai formasi tertentu, maupun arah putarannya senantiasa dari kanan ke kiri ( Lio Hago Wana) dan hanya setengah lingkaran, serta dalam suasana riang-gembira. Gerakan menghentakan kaki dan lambaian tangan yang mendominassi dalam tarian ini disesuaikan dengan bunyi pengiringnya. Tempo tarianya cepat bila diiring music tabuh tradisional, tetapi jika pengiringnya music modern atau lainnya tempo gerakanya bisa diperlambat.


      Pakaian Adat Bajawa
 Pakaian dasar yang digunakan pria dan wanita adalah tenunan asli daerah yang bermotif kuda (Sapu Lu’e Jara, Lawo Jara), yang berwarna dasar hitam. Kelengkapan tari yang digunakan oleh laki-laki adala : boku, marangia, wuli, sapu, keru, sau dan woda. Sedangkan wanita : medo, rabhe kobho, marangia, butu, lawo, keru, butu bae, dan woda.







       Ja’i melambangkan gerakan terbang burung elang karena itu Ja’I dapat disebut tarian “Burung Elang”.


                                 3. Tarian Dolo-dolo

 
Tarian dolo biasanya dibawakan dengan nyanyian dolo.

1.     Latar belakang syair dolo-dolo
Masyarakat Flores Timur meyakini bahwa mereka terdiri dari beberapa suku, yakni:
a.     Suku asli adalah: Suku Ile Jadi, yang lahir dari Gunung Ile Mandiri, dengan leluhurnya adalah Wato Wele dan Lia Nurat. Namun diyakini bahwa saat suku ini lahir, sudah ada juga suku Paji yang dianggap merupakan keturunan dari manusia gaib (mata mere). Keturunan Ile Jadi ini nantinya akan menjadi suku Demon, yang akan menjadi lawan suku Paji.
b.     Suku imigran adallah: pertama adalah suku Tena Mau yaitu pendatang yang bersal dari Indonesia bagian Timur yang tiba di Flores Timur akibat perahu (tena) mereka terdampar (mau). Termasuk di  dalamnya orang-orang Kroko Puken dan orang-orang Seram Goran. Kroko Puken diaggap berasal dari pulau Lapan Batang (Lembata), sebuah pulau yang dipercaya telah tenggelam di dasar laut, dan terletak di antara pulau Adonara dan Lembata. Kedua adalah suku Sina Jawa yang berasal dari Indonesia bagian Barat.
Silsilah sejarah ini selalu diceritakan secara turun temurun dari orang tua ke anak, anak ke cucu dan seterusnya. Hal ini menjadi sastra lisan dengan tinggkat mutu yang sangat tinggi. Biasanya sastra tutur ini disampaikann dalam berbagai bentuk : puisi, pantun, syair, nyanyian-nyanyian pantun  ataupun legenda.
2.     Latar belakang tarian dolo-dolo
Dalam masyarakat agraris termasuk masyarakat Flores Timur, segala hal dirayakan secara bersama-sama. Kegembiraan, syukur, kesedihan, kepahitan hidup, pernikahan dan sterusnya. Puncak tertinggi dari ritual adat adalah perayaan bersama, doa bersama, yang hampir selalu diwujudkan dalam bentuk tandak. Hal ini kemudian melahirkan tandak dolo-dolo. Tarian dolo-dolo berkembang dari tarian yang lebih tua, yang disebut Banama : tarian yang dipentaskan sebagai syukur atas panen. Tarian ini semakin punah setelah semangat dan ritmenya bertransformasi ke dalam tarian dolo-dolo.
3.     Motif irama
Karena dalam tarian dolo-dolo gerakan kaki yang melangkah dalam bentuk langkah dua-dua (dua ke depan, dua ke belakang, dua ke samping), gerakan kaki yang lincah ini menghasilkan syncope pada ketukan, sehingga musik dolo-dolo selalu berirama 2/4. Dolo-dolo diiringi oleh gendang atau gong. Pada keadaan lain orang sering menggunakan alat musik lain seperti gitar, biola, ukulele, bas dengan Gendang adalah alat musik utamanya dan penentu ketukan atau penanda irama.
4.     Tangga nada
Pada saat ini agak susah menelusuri tangga nada asli yang dipakai dalam dolo-dolo, karena perjumpaan yang begitu lama dan intens dengan budaya luar menyebabkan tangga nada yang dipakai selalu diatonis. Tapi ada kekhususan di sini. Dalam bentuk yang lebih tua, nada finalisnya adalah 3 (mi), seperti bentuk tangga nada frigis dalam musik gregrorian. Nada finalis 1(do) baru ada dalam bentuk yang lebih modern. Kal ini enjadi kekhasan adalah adanya cengkokkan, yang menjadikan lagu dolo-dolo sangat indah dan khas. Cengkokkan terutama terjadi di akhir kalimat syair, atau ketika ada not yang di-drible secara berulang.






Tarian ini melambangkan nilai-nilai persahabatan dan seringkali dimanfaatkan oleh kaum muda untuk mencari pasanga. Tarian  ini biasanya dimainkan oleh para pemuda/i pada waktu-waktu tertentu, misalnya acara syukuran, pada malam bulan purnama dll. Dalam tarian ini (siapa saja boleh mengikuti tarian ini) akan saling mentautkan jari kelingking dan membentuk lingkaran. Jika peserta banyak, lingkaran bisa terdiri dari tigalapis atau lebih. Para peserta akan saling melantunkan pantun dan saling berbalasan. Tarian ini akan berakhir jika sudah tidak ada lagi peserta yang bisa membalas pantun yang dinyanyikan oleh peserta lainya. Selama masih bisa berbalas-balas, tarian ini tidak akan berakhir.
Tarian ini juga biasanya dibawakan pada saat musim panen. Biasanya semalam suntuk masyarakat Flores Timur larut dalam kekgembiraan tarian dolo untuk menyukuri hasil panen yang diperoleh.











 
                      4. Tarian Gawi


     Pada perhelatan akbar ritual adat, masyarakat Lio menggenal gawi. Gawi dalam bahasa Indonesia dapat disebut juga dengan kata “ tandak”. Secara harafia kata tandak bermuara pada kata bertandak yang berarti berkunjung, menggunjungi, menyatukan hati, langkah dan pikiran. Makan inilah yang menjadi dasar untuk menyebut gawi sebagai tandak dari daerah Ende Lio. Sama halnya dengan tandak tadi, dalam tarian gawi pun kita yang terlibat dalam ritual tersebut berkewajiban saling bergandengan tangan, menyatukan hati, hentakan kaki, serta mempunyai pikiran yang sama disaat menggikuti tarian tersebut dan tidak boleh melepaskan tangan sampai upacara tarian gawi tersebut selesai.

   


Selain itu, kita hanya dapat melepaskan tangan kita pada saat kita hendak beristirahat.
    Tarian gawi adalah satu-satunya tarian khas masyarakat lio yang tertua dan dipimpin oleh seorang penyair yang ditunjuk para sesepuh adat. Dalam bahasa adat lio penyair ini dapat disebut “ATA SODHA”. Uniknya, untuk menjadi seorang penyair, seseorang harus mendapatkan ilham secara khusus karena penyair tidak boleh membaca teks atau catatan pada saat upacara gawi sedang berlangsung. Ini berarti penyair tersbut harus benar-benar menguasai alur-alur bahasa adat ketika dinyanyikan dalam sebuah aliran lagu adat yang dikenal dengan SODHA. Dalam beberapa ritual adat Mbama, tarian gawi ini kerap diisi dengan Bhea ole para sesepuh atau dalam hal ini Mosalaki sebagai pemegang tampuk dalam kuasa tertinggi didalam masing wilaya persekutuan Lio. Bhea, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti sebuah ungkapan bahasa adat lio yang bersifat seruaan untuk membangkitkan spirti sebagai tanda untuk menunjukan kebesaran, keperkasaan dan kemenangan.
     Secara harafia jika diartikan arti kata gawi sebagai berikut “ga” segan dan “wi” artinya menarik, dalam arti menyatukan diri. Tarian ini adalah symbol factual.





Taraian gawi pentaskan menggunakan LAWO LAMBU untuk perempuan dan LUKA LESU untuk laki-laki.

 



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar